Mengenang Tragisnya Kematian Sisca Yovie

Kontak Perkasa Futures – Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan peninjauan kembali (PK) Wawan, yang menghabisi nyawa Sisca Yovie. Alhasil, Wawan tetap menyandang terpidana mati karena merampok dengan bersekutu yang menyebabkan kematian.

Kasus bermula pada 5 Agustus 2013 saat Sisca hendak masuk ke rumahnya dan turun dari mobilnya. Saat Sisca hendak membuka pagar, Wawan dan Ade menjambret Sisca.

Sisca melakukan perlawanan tapi tak berdaya. Tubuh Sisca diseret oleh Wawan dan Ade dengan sepeda motor sejauh 500 meter hingga muka Sisca hancur di Jalan Cipedes, Kota Bandung. Setelah itu, Wawan dan Ade membacok Sisca.

Kengerian kasus itu tergambar dalam putusan Pengadilan Negeri Bandung.

“Tentunya sangat dapat dipahami tentang bagaimana penderitaan dan kesakitan yang dialami oleh korban sesaat mulai terjadinya perbuatan terdakwa sampai detik-detik korban mengembuskan napasnya yang terakhir. Tentunya, ketika itu, dengan rasa sakit pada tubuhnya tidak tertahankan, namun dia tidak berdaya melepaskan diri dari penderitaannya karena Wawan bersama Ade tidak memberikan kesempatan kepadanya,” ujar majelis yang terdiri atas Parulian Lumbantoruan, Parlas Nababan, dan Marudut Bakara.

“Pada saat yang sama, korban tentunya masih dapat memikirkan tentang saat-saat ajalnya akan tiba, sirna sudah masa depan yang sudah direncanakan dalam hidupnya, termasuk berbuat hal-hal baik terhadap orang lain yang akan diperbuatnya, bagaimana sangat dikasihi dan dicintai korban,” papar majelis.

Sesuai dengan fakta di persidangan, sesaat korban ditemukan oleh masyarakat dalam keadaan masih hidup, merintih kesakitan.

“Sambil menggenggam salib kalung yang melingkar di lehernya sebagai simbol dari imannya,” cetus majelis.

Majelis berharap, pada saat menjelang kematiannya, korban masih sempat meminta ampun akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya kepada Tuhan yang diimani dan kepada sesama manusia, seterusnya korban masih sempat menyerahkan hidupnya kelak memperoleh tempat di sisi-Nya dalam keabadian (rest in peace).

“Dari sisi keluarga sejak mengetahui hal-hal yang telah terjadi pada korban dan secara tragis mengembuskan napas terakhir tentunya shock, sedih, dan tentunya tidak dapat menerima begitu saja, menerima anggota keluarga mereka meninggal. Apalagi dengan alasan yang masih misterius,” ucap majelis PN Bandung dengan suara bulat.

Alhasil, Wawan dihukum penjara seumur hidup pada 24 Maret 2014 dan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Bandung tiga bulan setelahnya.

Namun, di tingkat kasasi, nurani hakim agung Artidjo Alkostar-Gayus Lumbuun-Margono terketuk dan meningkatkan hukuman menjadi hukuman mati. Proses kematian Sisca yang sangat tragis membuat Artidjo-Gayus-Margono memperberat hukuman Wawan menjadi hukuman mati.

“Vonis ini juga memberikan peringatan terhadap masyarakat untuk belajar menghormati nyawa orang lain dan hak asasi manusia. Sekarang kok begitu mudahnya membunuh orang lain. Semoga putusan ini bisa memberikan pelajaran bagi masyarakat dan memberikan rasa keadilan,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur kala itu.

Wawan kaget dan mengajukan permohonan PK.

“Menolak permohonan PK Wawan alias Awing bin Ahri Syafei,” putus majelis PK yang diketuai Syarifuddin dengan anggota Sumardjiatmo dan Eddy Army. Di kasus ini, Ade hukumannya diperingan menjadi 20 tahun penjara.

Alih-alih putusan itu dilaksanakan, pemerintah dan DPR malah sedang merencanakan perubahan KUHP sehingga Wawan tidak perlu dieksekusi mati, asalkan berkelakuan baik selama 10 tahun di penjara – Kontak Perkasa Futures
Sumber:news.detik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s