Mentransformasi Limbah Tahu Jadi Bahan Kulit

PT Kontak Perkasa, Yogyakarta – Lima perempuan di Yogyakarta membuat material baru dari air limbah tahu.
Mereka tergabung dalam XXLAB dan memiliki misi memberdayakan kelompok kecil ibu rumah tangga di Desa Srandakan, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul untuk mengolah air limbah tahu menjadi material baru yang menyerupai kulit.

Kini XXLAB berupaya mengembangkan temuan mereka dengan menggunakan konsep bisnis sama rata, tanpa menempatkan para pekerja di desa sebagai buruh yang hanya dieksploitasi tenaganya.

“XXLAB ini merujuk pada kromosom perempuan, XX,” kata Ratna Djuwita, satu dari lima pendiri XXLAB. “Awalnya karena kami semua perempuan, kami ingin memberdayakan perempuan agar lebih paham dengan elektronik, tanpa harus mengenyam sekolah khusus atau masuk dalam laboratorium sains.”

Bersama keempat kawannya—Irene Agrivina, Asa Rahmana, Atina Rizkiana, dan Eka Jayani—Ratna menghimpun dan membuat XXLAB pada 2014.

”Proyek ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosial wanita di Indonesia. Kami mengkritik diri kami sendiri. Tujuannya adalah bagaimana ini bisa bermanfaat dan dirasakan oleh perempuan di Indonesia.”

Saat itu, seorang ilmuwan dari Austria datang memberikan workshop tentang elektronika dasar pada perempuan di Yogykarta. Dari lokakarya tersebut kemudian XXLAB mampu menghasilkan temuan mereka, yakni nata de soya.

“Workshop-nya lebih kepada elektronika dasar. Tujuannya agar perempuan bisa dan paham tentang elektronika dasar tanpa harus banyak bergantung pada pria,” kata Ratna. “Tapi karena kami semua latar belakangnya kuat di fashion design, jadi lahirlah nata de soya ini.”

Nata de soya adalah lembaran material menyerupai kulit yang terbuat dari air limbah tahu. Cara membuatnya, air limbah tahu dimasak dengan cuka, gula, dan urea dengan komposisi tertentu. Setelah dingin, air ditempatkan pada nampan dan diberi bakteri khusus untuk merangsang tumbuhnya selulosa. Selama proses pembiakan bakteri, air di dalam nampan tak boleh terkena matahari langsung agar tak ditumbuhi jamur.

Dalam 7 hari, selulosa terbentuk dan lembaran ditiriskan untuk dikeringkan. Proses tersebut, menurut Ratna, tak menghasilkan limbah apapun atau zero waste.

“Bakterinya bernama acetobakter xylinum. Sisa endapan air limbah bisa dijadikan pupuk,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini. “Potongan materialnya juga bisa dibuang di tanah karena organik. Pengolahan material ini bisa disebut zero waste.”

Temuan itu lantas diajarkan kepada sejumlah ibu rumah tangga di Desa Srandakan, Bantul. Mereka adalah perajin nata de coco di sana. Para ibu rumah tangga di daerah tersebut mengambil air limbah tahu dari tetangga sekitar dan mengelolanya menjadi nata de soya.

Sekitar sepekan lalu, Ratna mengambil sebanyak 100 lembar nata de soya dari 4 ibu rumah tangga binaan mereka di Srandakan. Lembaran material itu dihargai cukup layak dan mampu menambah pemasukan ibu rumah tangga.

“Itu semua limbah. Bisa dibilang mereka hanya mengeluarkan biaya sedikit untuk gula, sedikit urea, dan gas untuk merebus air,” imbuh mantan jurnalis majalah fashion di Bandung itu. “Para perajin nata de coco ini punya peralatan yang bisa digunakan untuk membuat nata de soya.”

Ratusan lembar material itu kemudian diolah kembali di dapur anggota XXLAB agar lebih halus dan diberi warna menggunakan pewara alami. Bahan yang menyerupai kulit kemudian diubah menjadi sepatu, tas, dan aneka baju.

Ratna mengatakan, material nata de soya memiliki kualitas menyerupai kulit sapi, tahan air, ringan, tahan lama dan tak mudah sobek. Kini XXLAB menjalankan operasinya di Honfablab, sebuah laboratorium terbuka di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta.

Sempat merasa bersalah pada perempuan Indonesia
Kulit soya atau soya leather temuan XXLAB membawa 5 perempuan ini memenangi penghargaan bergengsi di kompetisi Prix ars Electronica di Austria pada 2015 lalu, sebuah ajang kompetisi tentang seni digital dan media. Para juri terkesan dengan konsep sustainable soya leather yang dibuat dari air limbah tahu.

Temuan itu didapat dari konsep serupa dengan cara yang digunakan untuk membuat nata de coco dan bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga manapun dengan peralatan yang sederhana.

Sejak itu, aneka penghargaan dan undangan banyak datang dari Eropa, mulai dari Austria, Perancis, hingga Norwegia. Namun rasa bersalah sempat terbesit di benak lima Kartini itu.

“Ketika pulang lagi ke sini, jadi kritik buat kami, ketika tidak ada perhatian dari perempuan di sini terus buat apa ini semua? Toh, semua proyek ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosial wanita di Indonesia,” kata Ratna. “Kami mengkritik diri kami sendiri. Tujuan kami berikutnya adalah bagaimana ini bisa bermanfaat dan dirasakan oleh perempuan di sini.”

Saat ini, siapapun bisa membuat nata de soya seperti temuan XXLAB. Hal itu mudah ditemukan di berbagai media sosial, salah satunya YouTube—situs video yang juga tempat Ratna dan kawan-kawan mendapat informasi awal dan cara tentang membuat nata de soya.

Kondisi itu pula yang membuat Ratna dan empat temannya menggunakan label creative common pada kreasi mereka. Artinya siapapun bisa membuat hal yang sama tanpa khawatir terkendala paten.

Sejumlah workshop pun terus dilakukan untuk mengajak perempuan lebih tidak berjarak dengan sains. Pendampingan di Desa Srandakan juga terus berlanjut.

Mencari konsep bisnis sama rata
Meskipun soya leather produksi ibu-ibu di Desa Srandakan saat ini hanya diserap oleh XXLAB saja, Ratna tak ingin terburu-buru mengejar investor yang kemudian bisa menyebabkan para penghasil soya leather tereksploitasi.

Sejak memenangi kontes di luar negeri, nama XXLAB banyak dikenal berbagai produsen merk ternama di Eropa dan Australia. Sejumlah tawaran sempat mampir mengajak XXLAB berkolaborasi, salah satunya dari brand papan atas di dunia, Cartier.

Namun tawaran itu belum terealisasi lantaran XXLAB kuatir investasi hanya akan membuat ibu rumah tangga, para perajin nata de soya, tereksploitasi dan menjadi kelompok yang paling tidak diuntungkan.

“Kami kuatir akan ada masalah dengan hak paten. Kami juga tak ingin keuntungan besar hanya didapat kami yang ada di kota dan berpendidikan tinggi,” aku Ratna. “Sementara nata de soya ini melibatkan banyak orang, mulai dari perajin tahu dan ibu rumah tangga perajin nata de coco di desa.”

XXLAB saat ini tengah merencanakan konsep kerja bersama dengan investor dan membuat produk karya nyata secara berkelanjutan dan bisa digunakan oleh konsumen. Kerjasama juga diharapkan mampu memperbaiki kekurangan dari soya leather saat ini, seperti ukuran lembaran yang tak bisa panjang dan lebar seperti kulit sapi.

“Targetnya tahun ini sudah ada karya nyata. Konsepnya adalah bekerja bersama, mengembangkan dan melakukan riset bersama dengan investor dan semua mendapatkan keuntungan yang sama,” ujar Ratna. – PT Kontak Perkasa

Sumber:Today

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s